<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Gue banget</title>
	<atom:link href="http://roomant.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://roomant.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Nov 2008 13:47:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='roomant.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Gue banget</title>
		<link>http://roomant.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://roomant.wordpress.com/osd.xml" title="Gue banget" />
	<atom:link rel='hub' href='http://roomant.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tentang Gue</title>
		<link>http://roomant.wordpress.com/2008/09/12/tentang-gue/</link>
		<comments>http://roomant.wordpress.com/2008/09/12/tentang-gue/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 09:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>roomant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://roomant.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211;[if !mso]&#62; &#60;! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &#8211;&#62; Abu Ubaidah bin Jarah ra. Kelahiran dan perkembangannya: Abu Ubaidah bin Jarah ra. lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarah yang dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roomant.wordpress.com&amp;blog=4816946&amp;post=6&amp;subd=roomant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><img src="http://www.zwani.com/graphics/welcome/images/welcome205.gif" alt="welcome205.gif" width="454" height="115" /></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->&lt;!&#8211;[if !mso]&gt;<span class="mceItemObject"></span> &lt;!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &#8211;&gt;</p>
<p><!--[endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:98.4%;padding:2.25pt;" width="98%" valign="top"><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;">Abu   Ubaidah bin Jarah ra.</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kelahiran dan   perkembangannya:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Abu Ubaidah bin Jarah ra. lahir di Mekah, di sebuah rumah keluarga suku   Quraisy terhormat. Nama lengkapnya adalah Amir bin Abdullah bin Jarah yang   dijuluki dengan Abu Ubaidah. Abu Ubaidah adalah seorang yang berperawakan   tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, rendah diri dan sangat pemalu.   Beliau termasuk orang yang berani ketika dalam kesulitan, dia disenangi oleh   semua orang yang melihatnya, siapa yang mengikutinya akan merasa tenang. </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Masuk Islam dari   sejak dini:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Abu Ubaidah termasuk orang yang masuk Islam dari sejak dini, dia memeluk   Islam satu hari setelah Abu Bakar sidik r.a. memeluk Islam. Dia masuk Islam   bersama Abdurrahman bin Auf, Usman bin Mazun dan Arqom bin Abil Arqom di   tangan Abu Bakar Sidik. Abu Bakar lah yang membawakan mereka menemui   Rasulullah saw. untuk menyatakan syahadat di depan beliau.<br />
Abu Ubaidah sempat mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw. Dia lah   yang membunuh ayahnya yang berada di pasukan musyrikin dalam perang Badar,   sehingga ayat Alquran turun mengenai dia seperti tertera dalam suarah Al   Mujadilah ayat 22 yang artinya, &#8220;Engkau tidak menemukan kaum yang   beriman kepada Allah dan hari kiamat yang mengasihi orang-orang yang menentang   Allah swt. dan Rasulullah, walaupun orang tersebut ayah kandung, anak,   saudara atau keluarganya sendiri. Allah telah mematri keimanan di dalam hati   mereka dan Dia bekali pula dengan semangat. Allah akan memasukkan mereka ke   dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di   dalamnya. Akan menyenangi mereka, di pihak lain mereka pun senang dengan   Allah. Mereka itulah perajurit Allah, ketahuilah bahwa perajurit Allah pasti   akan sukses. (Al-Mujadilah, 22) </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Gagah dan Jujur:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Rasulullah saw. menjulukinya dengan seorang yang &#8220;Gagah dan Jujur&#8221;.   Suatu ketika datang sebuah delegasi dari kaum Kristen menemui Rasulullah saw.   Mereka mengatakan, &#8220;Ya Ayah Kasim! Kirimkanlah bersama kami seorang   sahabatmu yang engkau percayai untuk menyelesaikan perkara kebendaan yang   sedang kami pertengkarkan, karena kaum muslimin di pandangan kami adalah   orang yang disenangi.&#8221; Rasulullah saw. bersabda kepada mereka,   &#8220;Datanglah ke sini nanti sore, saya akan kirimkan bersama kamu seorang   yang &#8216;gagah dan jujur&#8217;.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dalam kaitan ini, Umar   bin Khatab r.a. mengatakan, &#8220;Saya berangkat mau salat Zuhur agak cepat,   sama sekali bukan karena ingin ditunjuk sebagai delegasi, tetapi karena   memang saya senang pergi salat cepat-cepat. Setelah Rasulullah selesai   mengimami salat Zuhur bersama kami, beliau melihat ke kiri dan ke kanan. Saya   sengaja meninggikan kepala saya agar beliau melihat saya, namun beliau masih   terus membalik-balik pandangannya kepada kami. Akhirnya beliau melihat Abu   Ubaidah bin Jarah, lalu beliau memanggilnya sambil bersabada, &#8216;Pergilah   bersama mereka, selesaikanlah kasus yang menjadi perselisihan di antara   mereka dengan adil.&#8217; Lalu Abu Ubaidah pun berangkat bersama mereka.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sikapnya Dalam   Peristiwa Saqifah:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Sepeninggal Rasulullah saw. Umar bin Khatab r.a. mengatakan kepada Abu   Ubaidah bin Jarah di hari Saqifah, &#8220;Ulurkan tanganmu! Agar saya baiat   kamu, karena saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, &#8216;Sungguh di setiap kaum   terdapat orang jang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu   Ubaidah.&#8217; Lalu Abu Ubaidah menjawab, &#8216;Saya tidak mungkin berani mendahului   orang yang dipercayai oleh Rasulullah saw. menjadi imam kita di waktu salat,   oleh sebab itu kita seyogianya membuatnya jadi imam sepeninggal Rasulullah   saw. </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Jihadnya:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Abu Ubaidah bin Jarah r.a. ikut partisipasi dalam semua peperangan Islam,   bahkan selalu mempunyai andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Dia   berangkat membawa pasukan menuju negeri Syam, dengan izin Allah dia berhasil   menaklukkan semua negeri tersebut. </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ketika wabah penyakit Taun   merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khatab r.a. mengirim surat untuk memanggil   kembali Abu Ubaidah. Namun Abu Ubaidah menyatakan keberatannya sesuai dengan   isi surat   yang dikirimkannya kepada khalifah yangberbunyi, &#8220;Hai Amirul Mukminin!   Sebenarnya saya tahu, kalau kamu memerlukan saya, akan tetapi seperti kamu   ketahui saya sedang berada di tengah-tengah serdadu muslimin. Saya tidak   ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya   tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya   terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah saya dibebaskan   dari rencana baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.&#8221; Setelah Umar   r.a. membaca surat   itu, dia menangis, sehingga para hadirin bertanya, &#8220;Apakah Abu Ubaidah   sudah meninggal?&#8221; Umar menjawabnya, &#8220;Belum, akan tetapi kematiannya   sudah di ambang pintu.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Biografinya:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Sepeninggal Abu Ubaidah r.a. Muaz bin Jabal berpidato di hadapan kaum   muslimin yang berisi, &#8220;Hai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah   dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya   tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya,   lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada   semua orang dari dia. Oleh sebab itu kasihanilah dia, semoga kamu akan   dikasihani Allah.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Wafatnya:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
Menjelang kematian Abu Ubaidah r.a. dia memesankan kepada serdadunya sbb.,   &#8220;Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan, jika kalian terima, kalian   akan baik, &#8216;Dirikanlah salat, bayar zakat, puasalah bulan Ramadan,   berdermalah, tunaikan ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah   kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya,   janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapapun seorang   melakukan seribu upaya, dia pasti akan menemukan kematiannya seperti saya   ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia,   oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung   adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk   akhirat&#8230;Assalamu alaikum warahmatullah&#8217;.&#8221;<br />
Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal r.a. dan mengatakan, &#8220;Ya   Muaz! Imamilah salat mereka.&#8221; Setelah itu, Abu Ubaidah r.a. pun   menghembuskan nafasnya yang terakhir.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;">Abdullah bin Abbas   Bercerita</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
<strong>Kemuliaan Beberapa Sahabat Nabi SAW</strong></span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Thabarani telah   mengeluarkan dari Rib&#8217;i bin Hirasy, Sekali peristiwa telah datang Abdullah   bin Abbas (Ibnu Abbas) ra. meminta izin menemui Mu&#8217;awiyah ra. dan beberapa   orang tokoh kaum Quraisy sedang berada di sisi Mu&#8217;awiyah, dan Said bin Al-Ash   duduk di sebelah kanannya. Apabila Abdullah bin Abbas masuk ke majlis   Mu&#8217;awiyah itu, dia berkata kepada Said bin Al-Ash: Hai Said! Demi Allah, aku   akan kemukakan beberapa masalah kepada Ibnu Abbas ini yang dapat   menjadikannya serba salah untuk menjawabnya. Jawab Said: Orang seperti Ibnu   Abbas ini, tidak ada apa pun yang dapat menahannya daripada menjawab   pertanyaan-pertanyaanmu itu! </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Setelah Ibnu Abbas ra.   duduk, Mu&#8217;awiyah lalu melontarkan pertanyaannya yang pertama, katanya:   &#8220;Apa pandanganmu tentang pribadi Abu Bakar?&#8221; tanya Mu&#8217;awiyah.   &#8220;Moga-moga Allah merahmati Abu Bakar!&#8221; jawab Ibnu Abbas. &#8220;Itu   saja?!&#8221; tanya Mu&#8217;awiyah lagi. &#8220;Tidak!&#8221; kata Ibnu Abbas,   &#8220;demi Allah, dia itu sangat suka membaca Al-Quran, sangat membenci   kepada kejahatan, tidak pernah membuat kekejian, selalu melarang berbuat   kemungkaran, sangat ahli tentang urusan agamanya, kepada Allah amatlah   takutnya, senantiasa bangun di waktu malamnya, bila siang berterusan puasanya,   senantiasa membelakangi urusan dunianya, kepada rakyat terkenal adilnya,   membuat makruf maksud kerjanya, senantiasa bersyukur dalam segala   hal-keadaan, pagi dan petang berzikir lidahnya, dan untuk maslahat diri   ditinggalkan kesemuanya. Dia senantiasa melebihi teman-temannya dalam   kewara&#8217;an, dalam kesederhanaan. dalam kezuhudan, dalam kecukupan, dalam   kebajikan, dalam kelengkapan, dalam kethaatan dan dalam menyesuaikan diri   pada semua keadaan, maka kerana itu, mudah-mudahan Allah akan menurunkan kutukannya   terhadap siapa yang membencinya hinggalah ke hari kiamat!&#8221;. </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">&#8220;Baiklah&#8221;,   kata Mu&#8217;awiyah,&#8221;apa pula pendapatmu tentang Umar?&#8221;. &#8220;Moga-moga   Allah merahmati Abu Hafs (nama julukan Umar) itu&#8221;, jawab Ibnu Abbas.   &#8220;Bukankah Umar itu pembela Islam, pelindung anak-anak yatim, induknya   iman, tempat bergantungnya orang-orang yang lemah dan tempat kembalinya semua   orang yang beragama. Dia adalah benteng bagi sekalian ummat, tempat bermohon   bagi semua rakyat. Dia berjuang menegakkan hak Allah dengan penuh tekun dan sabar,   sehinggalah Allah,memenangkan agama ini kepada ramai manusia, dan membuka   banyak negara yang di bawah taklukan musuhnya. Kini sebutan nama Allah   tersebar pada setiap lembah dan negeri, pada setiap tanah rata dan   bukit-bukit, ada setiap kota   dan kampung halaman. Pada kata-kata yang keji ia selalu menjauhkan diri, pada   keadaan susah dan senang ia tetap mensyukuri, tidak pernah berhenti dari   mengingati Allah dan selalu menepati janji. Kerana itu, mudah-mudahan Allah   akan menurunkan kemurkaannya kepada siapa yang membencinya hingga ke hari   penyesalan di hari kiamat nanti!&#8221;</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mu&#8217;awiyah tidak berkata   apa-apa, tetapi dia ingin menanyai Ibnu Abbas tentang Usman bin Affan pula   yang datang dari sukunya sendiri, yakni Bani Umaiyah, katanya:   &#8220;Sekarang, cobalah engkau berikan pandanganmu kepada Usman bin Affan   pula?&#8221; kata Mu&#8217;awiyah. Ibnu Abbas ra. langsung menjawabnya, katanya:   &#8220;Moga-moga Allah merahmati juga si bapak Amru itu!&#8221; kata Ibnu   Abbas. &#8220;Dia adalah semulia-mulia anak cucu, yang kepada kaum keluarga   suka membantu, dan dalam medan   perang tidak gentar. Dia di waktu malam terus dalam keadaan bersujud,   bergenang air mata bila mengingati Tuhan, siang dan malam menanggung fikiran,   senantiasa bergerak ke arah sifat yang dimuliakan, senantiasa menjauhkan diri   dari perbuatan yang mencelakakan, demi memelihara diri dan mencari   keselamatan. Dia mengeluarkan hartanya untuk membiayai bala tentera, dan   membayar harga yang mahal untuk membeli sumber air untuk rakyat jelata, dan   dia juga seorang yang menikahi dua puteri Nabi yang mulia. Maka moga-moga   Allah menurunkan kemurkaannya ke atas siapa yang mencacinya hingga ke hari   kiamat.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">&#8220;Sekarang, apa pula   katamu tentang Ali bin Abu Thalib?&#8221; tanya Mu&#8217;awiyah pula.   &#8220;Moga-moga Allah merahmati bapak si Hasan itu&#8221;, kata Ibnu Abbas.   &#8220;Dia itu, demi Allah, adalah panji-panji hidayah, sarangnya taqwa,   sumbemya segala akal dan kepintaran, pokok dari segala kecantikan dan   kesempurnaan. Dia adalah cahaya yang bersinar di tengah kegelapan malam,   selalu mengajak ke jalan yang benar dan mencari ilmu yang mendalam. Dia ahli   dalam mengartikan kitab-kitab yang purba, pakar tentang pentakwilan Al-Quran   yang mulia, senantiasa berpegang kepada sebab-sebab petunjuk agama, selalu   membelakangi sikap yang zalim atau suka menganiaya, selalu menjauhkan diri dari   jalan-jalan buruk dan binasa, suka mendampingkan diri kepada orang yang   beriman yang taqwanya amat ketara. Dia adalah sebaik-baik orang yang bergamis   dan menutup kepala, seutama-utama orang yang berhaji kemudian bersa&#8217;i pula.   Banyak toleransinya dalam segala perkara, nampak jelas keadilannya dalam   kehakimannya di mana saja, amat bijak dalam pidato dan berbicara, tiada siapa   yang dapat mengalahkannya biar datangnya dari segala penjuru alam dan dunia,   hanya yang dapat mengatasinya ialah sekalian para Nabi dan Rasul yang   mendapat keutamaan Tuhan, khususnya Nabi Muhammad yang terpelihara dan   terutama dalam semua waktu dan zaman. Dia adalah orang yang pernah   bersembahyang dengan Nabi sehingga mereka menghadapi ke arah dua kiblat,   apakah ada orang lain yang dapat menandinginya? Dia telah menikahi   semulia-mulia kaum perempuan (yakni Siti Fathimah binti Rasulullah), apakah   ada orang yang dapat menyamainya? Kemudian dia juga ayah kepada dua cucunda   Rasulullah yang sangat dikasihinya, apakah ada lagi kelebihan yang lebih   tinggi daripadanya? Kedua belah biji mataku belum pernah melihat orang   sepertinya, dan barangkali tidak akan dapat melihat seumpamanya hingga ke   hari kiamat, hari pertemuan dengan Allah, Tuhan semesta alam. Jadi, siapa   yang melaknatinya, maka turunlah laknat Allah dan laknat para hambanya ke   atas orang itu hinggalah ke hari kiamat.&#8221;</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">&#8220;Baiklah, apa   katamu terhadap Thalhah dan Az-Zubair?&#8221; kata Mu&#8217;awiyah. &#8220;Moga-moga   Allah merahmati keduanya&#8221;, jawab Ibnu Abbas ra. &#8220;Mereka keduanya,   demi Allah, adalah bersih dari tuduhan, baik dalam amalan, mereka suci dan   patut disucikan, syahid dalam matinya, luas pengetahuannya&#8230;. cuma mereka   tersilap, dan moga-moga Allah akan mengampuni keduanya dalam kesilapannya   itu, berkat pembelaannya yang sudah terkenal dalam agama ini, dan   persahabatan yang kekal dengan Nabi yang mulia, dan kerana amalan-amalan   mereka yang baik yang sudah tidak perlu diperkenalkan lagi.&#8221;</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">&#8220;Apa katamu kepada   Al-Abbas itu (yakni bapa Ibnu Abbas sendiri)?&#8221; tanya Mu&#8217;awiyah.   &#8220;Moga-moga Allah merahmati Abul Fadhl itu,&#8217;terang Ibnu Abbas, &#8220;dia   itu bukan orang lain. Dia adik kepada ayah Rasulullah SAW dan menjadi cahaya   mata orang pilihan Allah. Induk sekalian kaumnya, penghulu dari semua paman   Nabinya. Pandangannya amat tajam kepada segala perkara, telaahannya amat   tepat pada semua akibat. Namanya akan dikenang orang bila disebut tentang   pengetahuannya, tiada siapa yang dapat menandinginya bila disebutkan tentang   keutamaannya, dan bila dibicarakan tentang keturunannya, semua orang akan   berundur diri kerana tidak sanggup menandingi keturunannya. Betapa tidak!   Kerana dia berada di bawah naungan dan peliharaan orang yang sangat terkenal   kemuliaannya pada setiap apa yang berjalan di atas muka bumi, dan beterbangan   di udara yang lepas bebas, iaitu Abdul Mutthalib. Dia adalah semulia-mulia   orang Quraisy yang berjalan di atas muka bumi, dan seutama-utama orang yang   menunggang kenderaan&#8230;&#8221; </span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;">Dihya Al-Kalbi ra.</span></strong><strong></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Bazzar   telah memberitakan dari Dihyah Al-Kalbi ra. katanya: Aku telah diutus oleh   Rasulullah SAW dengan membawa sepucuk surat   kepada Kaisar, Pembesar Romawi. Bila aku tiba di negerinya, aku terus   mendatanginya, lalu aku serahkan surat   itu kepadanya, sedang di sampingnya keponakannya yang berkulit merah, dan   berambut lurus. Dia pun membaca surat itu yang   berbunyi (Nas surat   menyurat itu tersebut di dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:83)</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Dari Muhammad Utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi. Mendengar   bunyi surat itu, keponakan Pembesar Romawi   mulai marah, lalu menyanggah: &#8220;Surat   ini tidak boleh dibaca sekarang!&#8221; dia menyeringai. &#8220;Kenapa?&#8221;   tanya Kaisar. &#8220;Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian   dia memanggilmu dengan pembesar Rom, bukan Maharaja Rom!&#8221;.   &#8220;Tidak&#8221;, sambut Kaisar, &#8220;biar surat ini dibaca untuk diketahui   isinya&#8221;. Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai, dan setelah   semua pengiring-pengiring Kaisar keluar dari majelisnya, aku pun dipanggil   untuk masuk. Bersamaan dengan itu dipanggilkan Uskup yang mengetahui   seluk-beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu Uskup itu, dan dibacakan   sekali lagi surat   itu kepadanya. &#8220;Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita Isa   sendiri telah memberitahukan kita lama dulu!&#8221; jawab Uskup itu kepada   Kaisar. &#8220;Apa pendapatmu yang harus aku buat?&#8221; tanya Kaisar kepada   Uskup. &#8220;Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan mempercayainya dan   akan mengikut ajarannya&#8221;, jawab Uskup dengan jujur. &#8220;Tetapi aku   jadi serba salah&#8221;, kata Kaisar, &#8220;jika aku ikut nasihatmu, akan   hilanglah kerajaanku!&#8221;.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Kami pun keluar meninggalkan tempat itu. Dan kebetulan sekali, waktu itu, Abu   Sufyan bin Harb sedang berada di Rom. Abu Sufyan dipanggil oleh Kaisar ke   istananya dan ditanyakan tentang diri Muhammad SAW itu. &#8220;Coba engkau   beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu?&#8221; tanya   Kaisar. &#8220;Dia seorang anak muda&#8221;, jawab Abu Sufyan. &#8220;Bagaimana   kedudukannya dalam pandangan masyarakat kamu, dia mulia?&#8221;. &#8220;Tentang   kedudukannya dan keturunannya, memang tiada siapa yang melebihi kedudukan dan   keturunannya!&#8221; jawab Abu Sufyan jujur. &#8220;Ini tentulah tanda-tandanya   kenabian&#8221;, Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang yang di sampingnya.   &#8220;Bagaimana bicaranya, adakah dia selalu berkata benar?&#8221;   &#8220;Benar&#8221;, jawab Abu Sufyan, &#8220;dia memang tidak pemah berkata   dusta&#8221;. &#8220;Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!&#8221; Kaisar terus   berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. &#8220;Baiklah&#8221;,   kata Kaisar lagi. &#8220;Orang yang rnengikutnya dari rakyatmu itu, adakah dia   meninggalkan agamanya, lalu kembali semula kepadamu?&#8221; &#8220;Tidak&#8221;,   jawab Abu Sufyan. &#8220;Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!&#8221; kata   Kaisar pula. &#8220;Adakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?&#8221;   &#8220;Ada!&#8221;   jawab Abu Sufyan. &#8220;Siapa yang selalu<span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">menang?&#8221; &#8220;Kadang-kadang dia mengalahkan kita, dan   kadang-kadang kita mengalahkannya&#8221;, jelas Abu Sufyan. &#8220;Ini lagi   satu tanda-tanda kenabian!&#8221; kata Kaisar Romawi itu.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Berkata Dihyah Al-Kalbi ra. seterusnya: Maka aku pun dipanggil oleh Kaisar   Romawi itu, seraya dia berkata kepadaku: &#8220;Sampaikanlah berita kepada   pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi&#8221;, dia menunjukkan   muka yang sungguh benar dalam kata-katanya. &#8220;Tetapi apa daya&#8221;,   katanya lagi, &#8220;aku tak dapat buat apa-apa, kerana aku tidak bersedia   ditumbangkan dari kerajaanku!&#8221;</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Kata Dihyah Al-Kalbi ra. yang menghayati semua peristiwa ini: Adapun sang   Uskup itu pula, maka ramailah orang yang datang ke gerejanya setiap hari   Ahad. Dia terus menemui mereka dan menyampaikan semua ajaran Nasrani itu.   Memang itulah kerjanya setiap hari Ahad. Tetapi apabila tiba hari Ahad   sesudah pertemuan itu, dia terus berdiam di rumahnya, tiada mau keluar   seperti biasanya. Sesudah perkenalan hari pertama, memang aku sering datang   kepadanya untuk berbicara mengenai agama Islam, dan dia terus-menerus   menanyakanku tentang Nabi SAW. Ahad berikutnya, Uskup itu terus berdiam diri,   dan orang ramai merasa kecewa menunggu, namun dia tidak datang juga. Maka   datanglah orang ke rumahnya menanyakan kabar, maka dia minta diuzurkan kerana   sakit. Hal serupa ini berlangsung sehingga berkali-kali, sehingga orang   mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada Uskup itu, memberikan   peringatan kepadanya, jika tidak mau datang juga ke gereja untuk menyampaikan   ajarannya, maka mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan   membunuhnya, kerana mereka telah menyangka, bahwa sejak datangnya si orang   Arab itu ke Rum, sikap Uskup telah banyak berubah. Uskup Romawi itu pun   memanggilku datang ke rumahnya. &#8220;Ini suratku, ambillah dan serahkan   kepada pembesarmu itu&#8221;, pesan Uskup itu dengan hati yang tidak tenang.   &#8220;Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada   Tuhan melainkan Allah, dan babwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah.   Katakan juga, bahwa aku beriman dengannya, mempercayainya, dan menjadi   pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku,   kemudian engkau ceritakanlah pula apa yang engkau saksikan itu&#8221;, pesan   Uskup itu kepadaku. Apabila Uskup itu enggan datang ke gereja lagi, mereka   marah, lalu mereka membunuhnya.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Abdan memberitakan dari Ibnu Ishak yang menukil dari beberapa orang yang   mengetahui peristiwa ini, katanya bahwa Heraklius berkata kepada Dihyah   Al-Kalbi ra. &#8220;Celaka engkau, memang demi Allah, aku tahu bahwa   pembesarmu itu adalah Nabi yang diutus, dan dialah orang yang kita tunggu   selama ini, dan sifatnya tersebut di dalam kitab kami. Akan tetapi, apa daya,   aku bimbang aku akan ditumbangkan dari kerajaanku. Kalau tidak kerana itu,   tentu aku akan mengikutnya. Coba engkau pergi kepada Uskup kami dan jelaskan   tentang perkara pembesarmu itu, kerana Uskup itu lebih dihormati orang dari   hal agama dan bicaranya tentu lebih diterima!&#8221;. Maka Dihyah pun   mendapatkan Uskup itu dan menceritakan berita yang dibawanya itu, maka   setelah didengar semua berita itu, Uskup itu berkata: &#8220;Pembesarmu itu,   demi Allah, adalah seorang Nabi yang diutus, kami mengetahuinya dengan   sifat-sifatnya dan namanya! Uskup itu lalu melepaskan pakaian gerejanya, dan   menukarnya dengan pakaian serba putih. Dia pun keluar di khalayak ramai   sambil mengisytiharkan penyaksiannya menjadi Islam. Orang ramai pun   mengerumuninya dan membunuhnya.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;">Usamah ra. sebagai Panglima </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Ibnu Asakir telah memberitakan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Usamah bin Zaid   ra. bahwa Rasulullah SAW memerintahkannya untuk menyerang suku kaum Ubna pada   waktu pagi dan membakar perkampungannya. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Usamah:   &#8220;Berangkatlah dengan nama Allah!&#8221;. Kemudian Rasulullah SAW keluar   membawa bendera perangnya dan diserahkannya ke tangan Buraidah bin Al-Hashib   Al-Aslami ra. untuk dibawa ke rumah Usamah ra. Beliau juga memerintahkan   Usamah untuk membuat markasnya di Jaraf di luar Madinah sementara kaum Mukmin   membuat persiapan untuk keluar berjihad. Maka Usamah ra. mendirikan kemahnya   di suatu tempat berdekatan dengan Siqayat Sulaiman sekarang ini. Maka   mulailah orang berdatangan dan berkumpul di tempat itu. Siapa yang sudah   selesai kerjanya segera datang ke perkemahan itu, dan siapa yang masih ada   urusan diselesaikan urusannya terlebih dahulu.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Tiada seorang pun dari kaum Muhajirin yang unggul, melainkan dia ikut dalam   pasukan jihad ini, termasuk Umar bin Al-Khatthab, Abu Ubaidah, Sa&#8217;ad bin Abu   Waqqash, Abul A&#8217;war Said bin Zaid bin Amru bin Nufail radiallahuanhum dan   banyak lagi para pemuka Muhajirin yang ikut serta. Dari kaum Anshar pun di   antaranya Qatadah bin An-Nu&#8217;man dan Salamah bin Aslam bin Huraisy ra.huma dan   lain-lain. Ada   di antara kaum Muhajirin yang kurang setuju dengan pimpinan Usamah ra. itu,   karena usianya masih terlalu muda (18 tahun). Di antara orang yang banyak   mengkritiknya ialah Aiyasy bin Abu Rabi&#8217;ah ra. dia berkata: &#8220;Bagaimana   Rasuluilah mengangkat anak muda yang belum berpengalaman ini, padahal banyak   lagi pemuka-pemuka kaum Muhajirin yang pernah memimpin perang&#8221;. karena   itulah banyak desas-desus yang memperkecilkan kepemimpinan Usamah ra. Umar   bin Al-Khatthab ra. menolak pendapat tersebut serta menjawab keraguan orang   ramai. Kemudian dia menemui Rasulullah SAW serta memberitahu tentang apa yang   dikatakan orang ramai tentang Usamah. Beliau SAW sangat marah, lalu memakai   sorbannya dan keluar ke masjid. Bila orang ramai sudah berkumpul di situ, beliau   naik mimbar, memuji-muji Allah dan mensyukurinya, lalu berkata: &#8220;Amma   ba&#8217;du! Wahai sekalian manusia! Ada   pembicaraan yang sampai kepadaku mengenai pengangkatan Usamah? Demi Allah,   jika kamu telah menuduhku terhadap pengangkatanku terhadap Usamah, maka sebenarnya   kamu juga dahulu telah menuduhku terhadap pengangkatanku terhadap ayahnya,   yakni Zaid. Demi Allah, si Zaid itu memang layak menjadi panglima perang dan   puteranya si Usamah juga layak menjadi panglima perang setelahnya. Kalau   ayahnya si Zaid itu sungguh sangat aku kasihi, maka puteranya juga si Usamah   sangat aku kasihi. Dan kedua orang ini adalah orang yang baik, maka hendaklah   kamu memandang baik terhadap keduanya, karena mereka juga adalah di antara   sebaik-baik manusia di antara kamu!&#8221;.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Sesudah itu, beliau turun dari atas mimbar dan masuk ke dalam rumahnya, pada   hari Sabtu, 10 Rabi&#8217;ul-awal. Kemudian berdatanganlah kaum Muhajirin yang   hendak berangkat bersama-sama pasukan Usamah itu kepada Rasulullah SAW untuk   mengucapkan selamat tinggal, di antaranya Umar bin Al-khatthab ra. dan   Rasulullah SAW terus mengatakan kepada mereka: &#8220;Biarkan segera Usamah   berangkat! Seketika itu pula Ummi Aiman ra. (yaitu ibu Usamah) mendatangi   Rasulullah SAW seraya berkata: &#8220;Wahai Rasulullah! Bukankah lebih baik,   jika engkau biarkan Usamah menunggu sebentar di perkemahannya, sehingga   engkau merasa sehat, karena, jika Usamah ra. berangkat juga dalam keadaan   seperti ini, tentulah dia akan merasa bimbang dalam perjalanannya!&#8221;.   Tetapi Rasulullah SAW tetap mengatakan: &#8220;Biarkan segera Usamah   berangkat!&#8221;.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Orang ramai sudah berkumpul di perkemahan pasukan Usamah itu, dan mereka   menginap di situ pada malam minggu itu. Usamah datang lagi kepada Rasulullah   SAW pada hari Ahad dan Beliau SAW terlalu berat sakitnya, sehingga mereka memberikannya   obat. Usamah menemui Beliau sedang kedua matanya mengalirkan air mata. Ketika   itu Al-Abbas berada di situ, dan di sekeliling Beliau ada beberapa orang kaum   wanita dari kaum keluarganya. Usamah menundukkan kepalanya dan mencium   Rasulullah SAW sedang Beliau tidak berkata apa-apa, selain mengangkat kedua   belah tangannya ke arah langit serta mengusapkannya kepada Usamah. Berkata   Usamah: &#8220;Aku tahu bahwa Rasulullah SAW mendoakan keberhasilanku. Aku   kemudian kembah ke markas pasukanku&#8221;. &#8220;Pada besok harinya, yaitu   hari Senin, aku menggerakkan pasukanku sehingga kesemuanya telah siap untuk   berangkat. Aku mendapat berita bahwa Rasulullah SAW telah segar sedikit, maka   aku pun datang sekali lagi kepadanya untuk mengucapkan selamat tinggal, kata   Usamah&#8221;. Beliau berkata kepadaku: &#8220;Usamah! Berangkatlah segera   dengan diliputi keberkatan dari Allah!&#8221;. Aku lihat isteri-isterinya   cerah wajah mereka karena gembira melihat beliau sedikit segar pada hari itu.   Kemudian datang pula Abu Bakar ra. dengan wajah yang gembira, seraya   berkata:&#8221;Wahai Rasulullah! Engkau terlihat lebih segar hari ini,   Alhamduillah. Hari ini hari pelangsungan pernikahan puteri Kharijah,   izinkanlah aku pergi&#8221;. Maka Rasulullah SAW mengizinkannya pergi ke Sunh   (sebuah perkampungan di luar kota   Madinah), Usamah ra. pun kembali kepada pasukannya yang sedang menunggu   penntahnya untuk bergerak, dan dia telah memerintahkan siapa yang masih belum   berkumpul di markasnya supaya segera datang karena sudah tiba waktunya untuk   bergerak.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Belum jauh pasukan itu meninggalkan Jaraf, tempat markas perkemahannya,   datanglah utusan dari Ummi Aiman memberitahukan bahwa Rasulullah SAW telah   kembali ke rahmatullah. Usamah segera memberhentikan pergerakan pasukan itu,   dan segera menuju ke kota   Madinah bersama-sama dengan Umar ra. dan Abu Ubaidah ra. ke rumah Rasulullah   SAW dan mereka mendapati beliau telah meninggal dunia. Beliau wafat ketika   matahari tenggelam pada hari Senin malam 12 Rabi&#8217;ul-awal. Kaum Muslimin yang   bermarkas di Jaraf tidak jadi berangkat ke medan perang, lalu kembali ke Madinah.   Buraidah bin Al-Hashib yang membawa bendera Usamah, lalu menancapkannya di   pintu rumah Rasulullah SAW. Sesudah Abu Bakar ra. diangkat menjadi Khalifah   Rasulullah SAW dia telah menyuruh Buraidah ra. mengambil bendera perang itu dan   menyerahkan kepada Usamah, dan supaya tidak dilipat sehingga Usamah memimpin   pasukannya berangkat ke medan   perang Syam. Berkata pula Buraidah: &#8220;Aku pun membawa bendera itu ke   rumah Usamah , dan pasukan itu pun bergerak menuju ke Syam&#8221;. Setelah   selesai tugas kami di Syam, kami kembali ke Madinah dan bendera itu terus   saya tancapkan di rumah Usamah sehingga Usamah meninggal dunia.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Apabila berita wafatnya Rasulullah SAW sampai kepada kaum Arab, sebagian   mereka telah murtad keluar dari agama Islam. Abu Bakar ra. memanggil Usamah   lalu menyuruhnya supaya menyiapkan diri untuk berangkat memerangi bangsa   Romawi sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelum wafatnya   dahulu. pasukan Islam mulai berkumpul lagi di Jaraf di perkemahan mereka   dulu. Buraidah ra. yang diamanahkan untuk memegang bendera perang telah   berada di markasnya di sana.   Tetapi para pemuka kaum Muhajirin yang terutama, seperti Umar, Usman, Abu   Ubaidah, Sa&#8217;ad bin Abu Waqqash, Said bin Zaid dan lainnya mereka telah datang   kepada Khalifah Abu Bakar ra. seraya berkata: &#8220;wahai Khalifah   Rasulullah! Sesungguhnya kaum Arab sudah mula memberontak, dan adalah tidak   wajar engkau akan membiarkan pasukan Islam ini meninggalkan kami pada masa   ini. Bagaimana kalau engkau pecahkan pasukan ini menjadi dua. Yang satu untuk   engkau kirimkan kepada kaum Arab yang murtad itu untuk mengembalikan mereka   kepada Islam, dan yang lain engkau pertahankan di Madinah untuk menjaganya,   siapa tahu kalau-kalau ada yang datang untuk menyerang kita dari mereka itu.   Kalau tidak, maka yang tinggal di sini hanya anak-anak kecil dan wanita saja,   bagaimana mereka dapat mempertahankannya? Seandainya engkau menangguhkan   memerangi kaum Romawi itu, sehingga keadaan kita dalam negeri aman, dan kaum   Arab yang murtad itu kembali ke pangkuan kita, ataupun kita kalahkan mereka   terlebih dahulu, kemudian kita mengirim pasukan kita untuk memerangi bangsa   Romawi itu, bukankah itu lebih baik?! Kita pun tidak merasa bimbang dari   bangsa Romawi itu untuk datang menyerang kita pada masa ini!. Abu Bakar ra.   hanya mendengar bermacam-macam pandangan dari para pemuka Muhajirin itu.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Setelah selesai mereka berkata, maka Abu Bakar ra. bertanya lagi: Adakah yang   mau memberikan pendapatnya lagi, atau kamu semua telah memberikan pendapat   kamu?! jawab mereka: &#8220;Kami sudah berikan apa yang harus kami   sampaikan!&#8221;. &#8220;Baiklah, kalau begitu. Saya telah dengar semua apa   yang hendak kamu katakan itu&#8221;, ujar Abu Bakar. Demi jiwaku yang berada   di tangannya! Kalau aku tahu bahwa aku akan dimakan binatang buas sekalipun,   niscaya aku tetap akan mengutus pasukan ini ke tujuannya, dan aku yakin bahwa   dia akan kembali dengan selamat. Betapa tidak, sedang Rasulullah SAW yang   telah diberikan wahyu dari langit telah berkata: &#8220;Berangkatkan segera   pasukan Usamah&#8221;. Tetapi ada suatu hal yang akan aku beritahukan kepada   Usamah sebagai panglima pasukan itu. Aku minta darinya supaya memembiarkan   Umar tetap tinggal di Madinah untuk membantuku di sini, karena aku sangat   perlu kepada bantuannya. Demi Allah, aku tidak tahu apakah Usamah setuju atau   tidak. Demi Allah, jika dia enggan membenarkan sekalipun, aku tidak akan   memaksanya! Kini tahulah para pemuka Muhajirin itu, bahwa khalifah mereka   yang baru itu telah berazam sepenuhnya untuk mengirim pasukan Islam,   sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Abu Bakar ra. lalu pergi ke rumah Usamah ra., dan memintanya agar membiarkan   Umar ra. tinggal di Madinah untuk membantunya. Usamah ra. setuju. Untuk   meyakinkan dirinya, maka Abu Bakar ra. berkata lagi: &#8220;Benar engkau   mengizinkannya dengan hati yang rela?&#8221; Jawab Usamah: &#8220;ya!&#8221;.   Khalifah Abu Bakar ra. lalu mengeluarkan perintah supaya tidak ada seorang   pun mengelakkan dirinya dari menyertai pasukan Usamah itu sesuai dengan   perintah Rasulullah SAW sebelum wafatnya. Dia berkata lagi: &#8220;Siapa saja   yang melewatkan dirinya untuk keluar, niscaya aku akan menyuruhnya mengejar   pasukan itu dengan berjalan kaki&#8221;. Kemudian Abu Bakar ra. memanggil   orang-orang yang pernah mengecil-ngecilkan pengangkatan Usamah sebagai   panglima perang, dan memarahi mereka serta menyuruh mereka ikut keluar   bersama-sama pasukan itu, sehingga tiada seoran pun yang berani memisahkan   dirinya. Apabila pasukan itu sudah mulai bergerak, Abu Bakar ra. datang untuk   mengucapkan selamat berangkat kepada mereka. Usamah mendahului para   sahabatnya dari Jaraf, dan mereka kurang lebih 3,000 orang, di antaranya ada   1,000 orang yang menunggang kuda. Abu Bakar ra. berjalan kaki di sisi Usamah   ra. untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya: &#8220;Aku serahkan kepada   Allah agamamu, amanatmu dan kesudahan amalmu! Sesungguhnya Rasulullah SAW   sudah berpesan kepadamu, maka laksanakanlah segala pesannya itu, dan aku   tidak ingin menambah apa-apa pun, tidak akan menyuruhmu apa pun atau   melarangmu dari apa pun. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh   Rasuluflah SAW saja&#8221;.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;">Usamah ra. dan pasukannya maju dengan cepat. Dia telah melalui beberapa   negeri yang tetap mematuhi Madinah dan tidak keluar dari Islam, seperi   Juhainah dan lainnya dari suku kaum Qudha&#8217;ah. Apabila dia tiba di Wadilqura,   Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah, dikenal dengan nama   Huraits. Dia maju meninggalkan pasukan itu, hingga tiba di LThna dan dia coba   mendapatkan berita di sana,   kemudian dia kembali secepatnya dan baru bertemu dengan pasukan Usamah sesudah   berjalan selama dua malam dari Ubna itu. Huraits lalu memberitahu Usamah,   bahwa rakyat di situ masih belum berbuat apa-apa. Mereka belum berkumpul   untuk menentang pasukan yang mereka, dan mengusulkan supaya pasukan Usamah   segera menggempur sebelum mereka dapat mengumpulkan pasukan.</span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-family:Tahoma;">Mu&#8217;awiyah ra. </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dikeluarkan oleh   At-Thabarani dan Abu Ya&#8217;la dari Abu Funail dari Mu&#8217;awiyah bin Abu Sufyan   radhiallaahu &#8216;anhu, dimana Mu&#8217;awiyah ra. telah menaiki mimbar pada hari   Qimamah dan berkata dalam khutbahnya, &#8220;Sesungguhnya harta rampasan   adalah harta kami dan terserah kepada kami untuk membagi-bagikannya.   Barangsiapa yang kami kehendaki, kami akan memberikan kepadanya dan   barangsiapa yang tidak kami kehendaki kami tahan dari membagikannya&#8221;.   Tidak ada seorangpun yang menjawab kata-katanya itu. Pada hari Jum&#8217;at yang   berikutnya beliau berkata-kata dengan perkara yang sama sehingga lah hari   Jum&#8217;at yang ketiga di mana beliau juga berkhutbah dengan perkara yang sama.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Maka seorang lelaki yang   hadir di dalam Masjid itu telah berkata kepadanya, &#8220;Tidak sekali-kali,   sesungguhnya harta tersebut adalah milik kami semua (dan harus dibagi-bagikan   dengan adil). Barangsiapa yang menghalang kami dari harta tersebut kami akan   berhukum kepada hukum Allah dengan pedang-pedang kami&#8221;. Lalu Mu&#8217;awiyah   ra. pun turun dari mimbar dan mengutus seseorang untuk memanggil lelaki itu.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Orang-orang (Muslimin)   pun berkata, &#8220;Binasahlah lelaki itu&#8221;.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kemudian kaum muslimin   pun masuk menemui Mu&#8217;awiyah ra. di dalam rumahnya dan mendapati lelaki itu   sedang duduk di atas tempat tidur. Maka berkatalah Mu&#8217;awiyah ra. kepada orang   ramai, &#8216;Lelaki itu telah menyinari rohaniku pada hari ini, maka Allah akan   menyinari jiwanya juga, aku telah mendengar Rasulullah shallallaahu &#8216;alayhi   wa sallaam bersabda,</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">&#8220;Akan   terjadi setelahku seorang Amir akan berkata-kata dengan sesuatu yang   bertentangan dengan syari&#8217;ah dan tiada seorangpun yang menentangnya. Dengan   itu mereka akan dilemparkan ke dalam neraka sebagaimana monyet memasuki   neraka (berlompatan karena epanasan)&#8221;.</span></em></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Aku telah berkhutbah   kepada kamu pada hari Jum&#8217;at yang pertama, maka tidak ada seorangpun dari   kamu yang bangun menentangku, lalu aku takut sekiranya aku menjadi golongan   amir tersebut. Kemudian aku sekali lagi berkhutbah dengan perkara yang sama   pada hari Jum&#8217;at yang kedua, maka tidak ada seorangpun yang membangkangi aku.   Akupun berkata kepada diriku sendiri, &#8220;Sesungguhnya aku termasuk ke   dalam golongan amir tersebut&#8221;. Kemudian sekali lagi aku berkhutbah   dengan perkara yang sama pada hari Jum&#8217;at ketiga, maka lelaki ini telah   bangun dan membantahi aku. Maka dia telah menghidupkan aku, lalu Allah akan   menghidupkannya&#8217;.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Tahoma;">SAID BIN MUSAYAB Rah</span></strong></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Seorang Tabiin merdeka,   bertipe sangat langka. Puasa di siang hari, salat tahajud di waktu malam. Dia   sempat menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali. Tidak pernah   ketinggalan takbiratul Ihram dalam salat jemaah selama empat puluh tahun dan   tidak pernah ditemukan melihat tengkuk seseorang pada waktu salat, selama itu   juga, karena selalu berada di baris pertama.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Lebih memilih kawin   dengan putri Abu Hurairah ra., meski mampu mengawini wanita Quraisy yang dia   kehendaki.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sejak kecil telah   bernazar untuk mengabdikan dirinya kepada ilmu pengetahuan.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Banyak menimba ilmu dari   istri-istri Nabi dan dari para Sahabat seperti Abdullah bin Abbas, Zaid bin   Sabit, Abdullah bin Umar, Usman, Ali, dan Shuhaib r.ahum.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mempunyai etika dan   tingkah laku seperti yang dicontohkan oleh para sahabat.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Orang yang paling zuhud   terhadap kehidupan. Pernah suatu ketika dia menolak lamaran putra mahkota,   Walid bin Abdul Malik, putra khalifah, Abdul Malik bin Marwan untuk mengawini   putrinya. Dia malah mengawinkan putrinya itu dengan seorang penuntut ilmu   bernama Abu Wada‘ah.</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ketika banyak yang   menyayangkan hal itu dia malah mengatakan, “Putriku adalah amanat di atas   pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.”</span></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Seorang penduduk Madinah   mengatakan tentang dirinya, “Dia adalah seorang yang menjadikan dunia sebagai   kendaraan menuju akhirat dan membeli yang abadi dengan yang fana untuk diri   dan keluarganya. Demi Allah, dia bukan tidak mau mengawinkan putrinya dengan   putra khalifah, atau memandangnya tidak berimbang, tetapi hanya khawatir   putrinya akan tertimpa fitnah keduniaan. Suatu ketika pernah ditanya oleh   seorang sahabat, ‘Apakah engkau menolak lamaran khalifah, lalu mengawinkan   putrimu dengan warga muslim biasa?’ Dia menjawab, ‘Putriku adalah amanat di   atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.’ Dia   ditanya lagi, ‘Apa maksudmu?’ Dia menjawab, ‘Coba pikirkan jika dia berpindah   ke istana Bani Umaiyah, kemudian dikelilingi oleh perabot mewah, para   pembantu dan dayang-dayang, lalu suatu saat nanti dia akan menjadi istri   khalifah, bagaimana kira-kira nasib agamanya?’”</span></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"> </span></td>
<td style="width:1.6%;padding:2.25pt;" width="1%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Comic Sans MS"; 	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p style="text-align:center;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Sylfaen;color:lime;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;color:lime;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:Sylfaen;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/roomant.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/roomant.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/roomant.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/roomant.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=roomant.wordpress.com&amp;blog=4816946&amp;post=6&amp;subd=roomant&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://roomant.wordpress.com/2008/09/12/tentang-gue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/030f4d2dc65c9040f8043b7e0a8e2899?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">roomant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.zwani.com/graphics/welcome/images/welcome205.gif" medium="image">
			<media:title type="html">welcome205.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
